Tentang yang Tersayang

sebelumnya sempat terlintas untuk mulai aktif nge-blog setelah selesai acara tes tes an itu.. tapi waktu sekolah tadi terlintas satu topik yang menarik. Eh terus, begitu sampai dirumah, ada yang lebih menarik lagi. Jadi yang ini ajah yah...

Belum lama sebelum saya mulai mengetik ini. Kira-kira sekitar 30 menit lalu saya tiba di rumah, lalu selang 15 menit kemudian papa saya pulang. Sedangkan mama lagi mengaji di masjid bersama ibu-ibu kompleks perumahan. saya sudah pasang pose untuk nge-wedang sore sambil nonton pertandingan tenis Australia Open 2015. Pertandingan tunggal putra antara pemain andalan Serbia, menduduki peringkat 1 dunia Novak Djokovic vs pemain asal Swiss peringkat 4 dunia Stanislas Wawrinka. Pertandingan berjalan alot, itu udah jalan 2 set saudara-saudara!!! *okeinimulaiganyambungdanmelencengdaritopik*
Lalu, papa bertanya,"Mama mana, dek?" "Lagi ngaji, kan ini hari jumat." "Oiya, coba Line mama suruh beli gorengan ya pas pulang." "Oke."
Tak selang beberapa detik kemudian, muncul chat dari kakak saya satu-satunya yang berada nun jauh di Pulau Dewata.
"Ma, Pa. Didit dirawat inap. Kata dokter didit diduga kena DBD."
JENGJENG!!!
Papa yang semula amat tenang dan santai, tiba-tiba mulai tergurat rona kepanikan diwajahnya. Sampai tak tau mau mengetik apa untuk membalas chattingan mamas.
"Coba tanya pah, udah cek darah belum?"
Kemudian, papa mengetik sudah cek darah mas?
Lalu dibalas Belum, pah. Disuruh ke UGD dulu.
Saya terus berinisiatif agar papa bertanya mengenai detail keadaan mamas saat ini. Karena papa benar-benar blank. Akhirnya papa memutuskan untuk menelpon mamas.
Assalamualaikum *tertawa kecil*
Waalaikumsalam. gimana mas?
masih demam, pah.
sekarang ada dimana?
ini lagi di UGD. Kata dokternya disuruh rawat inap buat observasi juga. Lihat perkembangan keadaan didit gimana.
Terus udah tes darah? hasilnya gimana?
belum, pah. Yah, ikutin aja lah apa kata dokternya.
oh, yauda. *kelihatan bingung harus ngomong apa*
saya berbisik untuk menanyakan dengan siapa mamas pergi ke rumah sakit
sama siapa ke rumah sakitnya mas?
ada, temen. Nanti malem juga Dhita kesini kok.
oh yauda. cepet baikan ya, mas. Assalamualaikum
iya, pah Waalaikumsalam.*tertawa kecil (lagi)*
Daaaan, muka papa tambah panik saudara-saudara. Bahkan sempat terucap untuk segera pergi ke Bali untuk lihat keadaan mamas.

Lalu mulai terlintas dibenak saya, sungguh nampak kekhawatiran beliau berdua. Walau mama gak ada di rumah saat ini, tapi mamah terus mengirim chat ke grup, dan saya yakin pasti langsung menelpon mamas juga.
Jujur, seumur hidup saya belum pernah melihat kedua orangtua saya begitu khawatir mengenai anaknya. Sekali pun saya dan kakak saya sakit di waktu lalu, belum pernah saya melihat beliau berdua begitu sedih dan khawatir begitu jelas di depan kedua mata saya.
Betapa paniknya beliau ketika tahu kabar itu.
Tak terbayang bagaimana paniknya beliau berdua ketika terjadi teror di sekolah saya.
Ketika itu ada orang yang amat picik dan tidak bertanggung jawab, sungguh dzalim. Menelpon masing-masing orangtua siswa di sekolah saya dan mengatakan bahwa anak mereka jatuh dari tangga dan perlu penanganan khusus dengan alat khusus yang harganya sungguh fantastis.
Hal tersebut dialami oleh orangtua saya.
Untungnya hal tersebut bohong.
Tapi untuk kasus mamas kali ini, yang ini nyata.
Pasti mama papa khawatir mendengar suara mamas yang bergetar sambil terus mengambil napas panjang. Tentu menahan sakit.
Dan terasa sekali rasa sakit itu sampai ke batin beliau berdua.

Dulu, saya sempat berfikir bahwa mama papa lebih sayang pada mamas. Sungguh egois memang.
Namun mamas dengan lapang dadanya bilang
siapa yang bilang gitu, dek? emang kamu tau mama papa gimana didepan mamas? emang kamu tau apa yang mama papa bilang didepan mamas saat kamu gak disitu? tau gak kamu mama papa ngomongin apa aja tentang kamu? dek, melihat kehidupan itu gak bisa cuma dari sudut pandang kamu. Jangan ngambil kesimpulan sepihak, kamu gak adil sama mama papa. Kita ini sedarah, masa iya mama papa lebih sayang salah satu diantara kita? Kita ini sama-sama anak mama papa.
Sampai saat itu saya berusaha untuk bisa memandang keadaan dari pihak mama papa.
Begitu pun saat ini. Saya berusaha mengerti betapa panik dan khawatirnya mama papa.

Dari sudut pandang mamas, lebih kurang saya akan bersikap tak jauh seperti mamas. Tetap berusaha tertawa disela sakitnya. Berusaha tenang agar mama papa juga tenang.

Jadi, bersyukurlah kita disaat orangtua ada dan dekat dengan kita. Ketika saya bilang bahwa saya belum pernah melihat betapa khawtirnya mama papa sampai pada hari ini, itu benar.
pernahkah orangtua menampakkan kekhawatirannya di depan kita, anak-anaknya?
teman, sekalipun beliau berdua khawatir dengan keadaan anaknya beliau berdua pasti berusaha semaksimal mungkin untuk tenang dihadapan kita. Berusaha setenang mungkin untuk menyampaikan maksud dan keinginannya.
Hebat ya? iya dong. Entah seperti apa Allah merancang hati beliau berdua. Dan, entah terbuat dari apa hati beliau berdua. Terkadang begitu tegas namun mempunyai sisi lembut yang menyejukkan hati anak-anaknya.

uhibbuki fillah Ummi
uhibbuka fillah Abi

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer