Tak Setenang di Permukaan


Assalamu'alaikum :)
lama tak bersua hehehe
fikiran ana dan jari jemari ini mulai gatal ini mengetik sesuatu..
karena ini sempat jadi consern buat saya beberapa waktu lalu.. tentang aurat, terutama perempuan.
mainstream? believe me, it is totally a big consern in this era. Terutama buat saya, remaja tanggung :v
ini bukan cerita orang lain, cuma perdebatan dalam diri saya.
masih jauh dari kata berdakwah, cuma mau ngetik aja kok.

enaknya dimulai dari zaman saya kecil kali, ya?
bersyukurlah saya karena disekolahkan di sekolah berbasis islam semenjak taman kanak-kanak. meski pun sewaktu TK saya masih berpakaian rok sebatas lutut dan baju berlengan sampai siku, syukurlah menginjak kelas 2 SD sekolah mewajibkan siswinya berjilbab. Sedari itu mama sudah mulai berjilbab penuh. Beliau berpesan,"Dek, kamu kan sekolah sudah pakai jilbab, kalo di abudemen teman-teman adek lepas jilbab, adek jangan ya.. Tunggu sampai dirumah baru boleh lepas jilbab." Membekas di otak saya. Saat itu belum banyak bertanya,"Kenapa gitu, mah?" Cukup menurut sama mama. Itu sudah pilihan terbaik, pikir saya. Tidak jarang hati ini bergumam saat pulang sekolah, enaknya lepas jilbab, angin sepoi-sepoi. Keringetan gini abis lari-lari rebutan tempat duduk, pingin buka jilbab. Tapi, kata mama tunggu sampai dirumah.
saya bertahan sampai kelas 4 SD.
naik kelas 5 SD, saya sempat tidak memakai jilbab ketika liburan. Tante saya bertanya,"Adek, jilbabnya kok gak di pake?" sambil tersenyum. Saya cuma bisa menunduk menghindari pertanyaan. Mama menjawab,"Iya nih, biasanya dipake. Kenapa dek?"
Saya tambah malu. Cuma bisa sok sibuk melilit pakaian di ujung jari sambil menunduk.
Seketika itu, saya ingat sekali leher ini rasanya amat dingin di belai angin. Ada yang salah dengan saya seperti ini, tanpa jilbab. Akhirnya ketika naik kelas 6 SD saya terus berusaha memakai jilbab tiap keluar rumah. Semenjak itu melihat teman-teman sekolah ketika bertemu di tempat umum dan mereka tidak menggunakan jilbab, ada yang salah dengan mereka. Hati ini selalu bilang,"Kenapa mereka lepas jilbab? kenapa di sekolah saja? kenapa?"
Mama tidak pernah bilang mereka itu jelek, tidak. Mama tetap ingin saya berteman seperti biasa dengan mereka. Ketika saya bertanya kepada mama,"Mah, kok dia ga pake jilbab ya?" mama selalu bilang,"Iya ya? kenapa?" sambil tersenyum.
Lulus SD, naik ke bangku SMP tidak banyak gejolak dikala ini. Karena setelah saya pikir pikir lagi, mungkin ini pengaruh dari teman-teman dekat saya yang berprinsip sama dengan saya. bahwa jilbab itu penting dan wajib dipertahankan. Setiap pergi jalan-jalan kami selalu berjilbab. Alhamdulillah Allah masih melindungi saya.
Lulus SMP, saya masih bersekolah di yayasan yang sama. Syukur alhamdulillah masih berjilbab. Tapi banyak yang berubah di masa ini.
"Mba itu jilbabnya lebar yah..." Hehehehe pada waktu itu, masih tabu bagi saya. saya masih pake jilbab "saringan tahu" tidak menutup dada pula. Masih sulit memakai rok apalagi gamis. kelihatan tua. begitu katanya.
Alhamdulillah, pada masa itu banyak hal yang membawa saya kearah lebih baik di sisi spiritual. Terutama ada pelajaran tambahan agama islam dengan tutor muda kece. Mba Afril namanya... semangat berdakwahnya itu loh. meskipun sederhana apa yang disampaikan beliau, tapi ngena dihati saya. Beliau kembali bercerita lewat pengalaman pribadinya.
"Dek, kalian liat kan saya putih sipit gini? orang-orang semua ngira saya noni (non-islam). Masuk SMA untuk memperjelas saya ikut rohis, tapi tetap di kira noni. Terus saya berfikir, kenapa? saya bertanya sama tutor rohis, beliau mengajak saya untuk berjilbab. Pelan-pelan saya berjilbab, akhirnya saya dikenal sebagai seorang muslim. Dek, jilbab ini bukan hanya sebagai identitas kita. Tapi juga pelindung bagi kita para perempuan."
Terus beliau menyampaikan, sampai apa itu jilbab, bagaimana berjilbab sesuai dengan yang Allah perintahkan dalam Al-Quran. Akhirnya membuat saya bertanya-tanya,"Selama ini saya salah?"
Bukan hal mudah bagi saya untuk memakai rok, apalagi gamis.
Tak jarang ketika saya ada pelajaran tambahan diluar sekolah, dan saya pulang untuk berganti baju dan memakai rok, atasan panjang selutut dengan jilbab menjuntai menutupi dada kakak-kakak kelas di tempat les saya bilang,"Dek, kamu kayak pengajar aja pake kayak begitu.." saya hanya bisa tersenyum melawan kegetiran hati mendengar kata-kata seperti itu.
Bukan hanya itu, terkadang ada adik-adik SD yang bermain dan melihat saya seketika mereka bilang,"Umi, kok gak ngajar?" saya tersenyum dan bilang,"Mba masih SMA, dek. belum jadi guru hehehe." itu bukan hanya sekali, tapi sering dan berulang-ulang.
Terkadang saya masih bisa mengingat pahitnya kata-kata itu. Tapi tak apalah, hati ini tak pernah bilang ini salah. Tangan ini tak pernah gemetar ketika memilih mengenakan baju-baju itu. Kaki ini tak pernah berat melangkah dengan pakaian ini. Lillahita'ala, Insyaallah. Allah menguatkan hati saya.

Lalu sampai ketika kami kedatangan teman perempuan baru di tempat les. Ia tidak berjilbab, tapi seorang muslim. Alhamdulillah. Amat cantik, kulitnya putih bersih, wajah pun bersinar, rambut hitam kelam panjang sedikit ikal, mata coklat. MasyaAllah, cantik sekali. Sering saya membatin seperti itu.
Namun, sering juga saya menyayangkan ia tidak berjilbab. Iman saya masih lemah untuk mengucapkan kata-kata,"berjilbab yuk, kita sama-sama berjilbab. Biar Allah sayang." namun berat terasa lidah ini.
sampai ketika ia bertanya,"kalo pake jilbab aku aneh gak?" Alhamdulillah ya Allah, hidayahmu sampai kepadanya. Senang tak terkira, ia minta diajarkan berjilbab.
sampai ketika kami naik kelas, dan berpisah memilih tempat les yang baru.
kami masih terus berhubungan, dan saya mendapat kabar akhirnya teman saya benar-benar berjilbab. Alhamdulillah ya Allah. Bergetar hati ini. Mengapa begitu senang? entahlah. Mungkin karena saya amat sayang kepada teman saya itu. Bergetar jemari ketika mengetik kata alhamdulillah untuk dikirim kepada dia.

Lama setelah itu, kami kembali bertemu di salah satu acara try out.
Amat segar diingatan saya. Saat itu musim hujan. Pagi pukul 7 hari minggu. Dingin dan berangin. Saya menunggu teman-teman sekolah untuk masuk gedung try out, saya menunggu di parkiran gedung. Peserta tryout lain sudah mulai berdatangan.
Tiba-tiba seorang perempuan mendekati saya dan memanggil sambil menepuk bahu, saya kaget.
MasyaAllah, si cantik. Benar-benar berjilbab, bukan hanya untuk sensasi media sosial. di parkiran itu. di pagi itu, saya langsung memeluk dia dan memanggil nama dia. Seketika saya menangis berlinangan air mata."Yud, kok nangis? Yud jangan nangis.. malu.. ini di parkiran.." Ah, maaf ya cantik. Air mataku tak terbendung lagi, akhirnya kami menangis bersama, dan teman saya menepuk pelan punggung saya dan berkata,"Yud, udah ah.. diliatin orang tuuh.."
Air mata saya masih bercucuran, inikah nikmatnya mengajak orang kepada kebaikan? inikah nikmatnya menyelamatkan saudara seiman? saya terus berterimakasih tiada henti kepada Allah. Karena sudah menguatkan hati teman saya dan memberinya cahaya menuju kebaikan.

Jilbab bukan hanya pelengkap pakaian, bukan hanya simbol.
Tapi bentuk ketaatan kepada sang Maha Pencipta.
Allah ingin melindungi kaum perempuan, kenapa kita malah menolak?
Jilbab bukan untuk orang yang sempurna imannya, tapi untuk menyempurnakan iman kita.
Kalau bisa diulur, kenapa dililit?
Berjilbab lebar bukan maksud sok alim, tapi ingin taat kepada Allah
Kenapa harus ditunda?
Penundaan selalu membuat penyesalan diakhir
Kuatkan hati, minta Allah menguatkan hati kita.
Perlahan-lahan jilbab ini, khimar ini yang akan membantu kita mendekat kepada Allah dan Rasulnya
Perlahan-lahan jilbab ini, khimar ini yang menjadi perantara untuk memberatkan pilihan-pilihan yang disenangi syetan
Insyaallah, Allah selalu melindungi hambanya yang berusaha taat.
Insyaallah
Yaa Muqollibul Qulub, tsabit qolbi 'alaa diinik
Robbana Laa tuzikhqulubana ba'da idzhadaitana wa hablana milladunka rohmah innaka antal wahhab
Bismillahirrohmanirrohim
semoga Allah menguatkan hatiku, hatimu, hati kita pada tali agama-Nya.

Komentar

Postingan Populer