Lembut Angin (Part 1)

Hadirlah seorang perempuan yang penuh tanya dalam hatinya
ia terus berusaha meyakinkan hatinya bahwa jiwa-jiwa yang bersamanya adalah jiwa yang baik dan tulus.
Layaknya seorang hamba tuhan, ia tak pernah tau apa yang akan dihadapinya.
Jangankan 40 hari dari sekarang, sepersepuluh detikpun ia tak tau.
"sungai akan terus mengalir, biar aku ikuti saja arusnya"
Pikirannya kelabu, terbebani akibat keputusan sepihak.
Tapi sekali lagi, ia memutuskan mengikuti arus sungai.

Pagi itu mentari bersinar gagah, namun tidak menghalangi awan menari disekelilingnya.
Ribuan jiwa disiapkan untuk mengabdi, begitupun ia.
Tapi sekali lagi, ia diselimuti tanya. Bukan tanpa alasan, ia telah dikecewakan. Memang pada akhirnya ia harus berkorban, meskipun ini baru di halaman pertama. Tak apa, ia kembali meyakinkan dirinya sendiri.
Roda berputar hingga akhirnya sampailah ditanah pengabdian.
Ia kembali khawatir, karena ia tahu akan kembali menyulitkan banyak orang.
Lagi-lagi ia berusaha mengabaikannya sejenak. Satu hal yang ia yakini, sekalipun ini keputusan sepihak ia tak mungkin ditinggalkan oleh orang-orang yang turut andil dalam pengambilan keputusan itu. Yakin seyakin-yakinnya.

Lagi-lagi ia merasa sangat disayang Tuhannya. Bersama kesulitan ada kemudahan.
Hingga hari ini, ia masih berandai. Mengapa Tuhan menghadirkan jiwa-jiwa yang sekarang ia kenali untuk membersamainya sepanjang perjalanan pengabdian?
Memang bukan hal kosong yang ia dapati sekarang.
Tapi, tetap saja.. kenapa?
Terkhusus seorang. Nampak tembok yang sangat tinggi menghalangi sosoknya. Ia misterius.


--to be continued--

Komentar

Postingan Populer