Warna (Part 3)
Terlalu dini baginya untuk memandang mentari.
Terik.
Menyilaukan.
Ia masih bersembunyi, dibawah pohon itu.
Redup.
Menyejukkan.
Setidaknya disana ia merasa aman, sendiri.
Bercengkrama dengan sahabat-sahabat kecilnya.
Tak banyak ia tau soal dunia, namun sahabat-sahabatnya tak segan berbagi kabar.
Dunia itu berwarna.
Dunia mengajarkan bahwa warna-warna itu tak pernah hadir sendirian, berbaur satu dengan yang lainnya.
Terlalu egois jika mengganggap hanya ada satu warna dalam bauran itu. Sering kali dianggap pertanda sial.
Ah, memang ada benarnya.
Iapun mengakui bahwa alasan ia berlindung dari terik mentari bukan hanya karena satu alasan saja.
Gejolak yang ia rasakan merupakan bauran warna.
Nampaknya ia adalah salah satu yang egois.
Jika kesejukan dan redup itu dapat mematikan jiwanya maka ia harus menikmati terik mentari. Biar badannya dibasahi peluh. Sahabat-sahabatnya tak enggan menyertai, menjelajah dunia.
Komentar
Posting Komentar